Langsung ke isi
inomn.CATATAN KECIL TENTANG BULAN
Bulan di Nusantara

Beo Wajur · Manggarai Barat, Flores / 11

Bulan yang keluar jalur,
dipanggil pulang dengan gendang.

Di Manggarai gerhana bulan dijelaskan sebagai Bulan yang menyimpang dari jalurnya, dan orang menabuh gendang supaya ia kembali; di Beo Wajur, Manggarai Barat, gerhananya disebut Weleng Wulang dan justru dibaca sebagai tanda baik.

Nama cerita
Weleng Wulang
Peran Bulan
Gerhana bulan sebagai tanda rezeki dan pertanian
Yang dijelaskan
Gerhana bulan
Kekuatan bukti
Bukti menengah

Kepercayaan gerhananya tercatat pada dokumentasi Observatorium Bosscha ITB. Istilah Weleng Wulang dan kaitannya dengan pertanian datang dari sumber lain, yaitu rubrik budaya Tabloid Berita Indonesia yang tidak mencantumkan sumbernya sendiri. Yang terdokumentasi di sana adalah tradisi tabuh gendang dan gongnya. Bahan ini lebih lemah daripada dokumentasi Nini Anteh atau Atuf, sehingga lebih tepat dibaca sebagai catatan tradisi lokal.

Gerhana sebagai Bulan yang menyimpang

Observatorium Bosscha mencatat bahwa di Manggarai ada kepercayaan bahwa gerhana bulan terjadi karena Bulan menyimpang dari jalurnya. Yang dijelaskan bermasalah di sini adalah lintasannya — beda dari Jawa atau Dayak yang menjelaskan gerhana dengan pemangsaan.

Responsnya pun berupa tindakan, bukan sekadar tafsir. Orang menabuh gendang dan menari supaya Bulan kembali ke jalurnya.

Pola bunyi keras seperti ini berulang di banyak daerah — ada yang memakai lesung, gong, kentongan, atau gendang. Seolah masyarakat ikut bekerja memulihkan keteraturan kosmos, bukan hanya menunggu langit membereskan dirinya sendiri.

Weleng Wulang di Beo Wajur

Nama “Weleng Wulang” datang dari sumber yang lain: rubrik budaya sebuah tabloid yang merangkum tradisi Beo Wajur di Manggarai Barat. Di sana Weleng Wulang adalah sebutan masyarakat setempat untuk peristiwa gerhana bulannya sendiri. Ritual yang menyertainya berupa berkumpul di rumah adat kampung, menabuh gendang serta gong, dan melantunkan nyanyian.

Di sumber yang sama, gerhananya dibaca sebagai tanda baik: Weleng Wulang dipercaya membawa tanda kebaikan dan keberhasilan dalam usaha mengolah pertanian. Sumber itu juga menyebut bahwa bagi masyarakat setempat gerhana bulan tidak dianggap berbahaya.

Dua catatan ini datang dari dua sumber yang berbeda dan tidak otomatis menjelaskan hal yang sama. Catatan Bosscha berbicara tentang Manggarai secara umum, dengan gendang dan tarian supaya Bulan kembali ke jalurnya. Catatan Beo Wajur berbicara tentang satu kampung, dan di sana gerhananya dibaca sebagai tanda rezeki. Bentuk ritualnya mirip, tetapi kemiripan itu belum cukup untuk memastikan alasannya sama.

Sejauh mana ini boleh dikatakan

Bahan untuk Manggarai lebih lemah daripada dokumentasi Nini Anteh atau Atuf, yang terbit lewat repositori perguruan tinggi dan penerbitan Badan Bahasa.

Karena itu klaimnya sebaiknya dipakai sebagai dokumentasi tradisi lokal, bukan digeneralisasi menjadi “kepercayaan semua Manggarai”. Yang dirangkum sumbernya adalah tradisi Beo Wajur di Manggarai Barat.

Kehati-hatian yang sama berlaku saat membandingkan dengan daerah lain. Pola “gerhana sebagai gangguan terhadap Bulan” memang muncul di banyak tempat di Nusantara, tetapi kesamaan pola tidak membuktikan satu asal cerita yang sama.

Bulan berwarna merah tembaga saat gerhana bulan total
Rupa Bulan saat gerhana total — peristiwa yang di Manggarai dijelaskan sebagai Bulan yang keluar dari jalurnya. Fotonya gerhana bulan 8 November 2022, dipotret dari Florida: gambar Bulannya, bukan gambar ritualnya. NASA/Joel Kowsky

Yang tidak bisa disimpulkan dari cerita ini

  • Menggeneralisasi tradisi ini menjadi “kepercayaan semua Manggarai”. Sumbernya merangkum tradisi Beo Wajur di Manggarai Barat, dan sebaiknya dibaca sebagai dokumentasi tradisi lokal.
  • Menggabungkan mitos gerhana se-Nusantara menjadi satu mitos. Di sini gerhana dijelaskan sebagai Bulan yang keluar dari jalurnya, sementara Jawa punya Kala Rahu dan Tidore punya raksasa; kesamaan pola tidak membuktikan satu asal yang sama.
  • Membaca cerita ini sebagai catatan sejarah astronomi yang harfiah. Nilainya adalah sebagai bukti sejarah cara manusia memberi makna pada langit.

Sumber

Sebagian sumber berada di repositori pemerintah yang kadang lambat atau sedang tidak dapat diakses. Tautannya tetap dicantumkan apa adanya.