Langsung ke isi
inomn.CATATAN KECIL TENTANG BULAN
Kehidupan

KEHIDUPAN / 04

Kalender yang
mengikuti Bulan.

Sebagian hari besar di Indonesia berpindah tanggal Masehi setiap tahun karena kalendernya menghitung waktu dari Bulan, bukan dari Matahari.

SUMBER TERCANTUM DI BAWAH

Satu bulan Bulan tidak pas dengan satu bulan kalender

Bulan memerlukan 27,32 hari untuk satu kali mengelilingi Bumi. Tetapi itu bukan angka yang kamu lihat di langit. Selama Bulan mengorbit, Bumi ikut bergerak mengelilingi Matahari, sehingga Bulan perlu waktu tambahan untuk kembali ke susunan yang sama terhadap Matahari. Selang antara dua bulan baru itulah yang disebut periode sinodis, dan NASA mencatatnya 29,53 hari. Halaman fase Bulan NASA menyebutnya dengan kalimat yang lebih sederhana: siklusnya berulang sekitar 29,5 hari.

Angka 29,53 tidak bulat, dan di situlah semua kerumitan bermula. Kalender perlu bilangan bulat hari, jadi bulan kalender yang mengikuti Bulan diisi bergantian 29 atau 30 hari agar rata-ratanya mendekati 29,53. Tidak ada susunan yang bisa membuat keduanya pas sekaligus.

Sekarang kalikan dengan dua belas. Dua belas bulan sinodis berumur sekitar 354,4 hari, sedangkan satu tahun tropis menurut lembar fakta Bumi NASA adalah 365,242 hari. Selisihnya sekitar 10,9 hari. Kalender yang hanya menghitung Bulan dan tidak pernah menambal selisih itu akan selalu mendahului kalender Matahari sekitar sebelas hari setiap tahun.

Dua cara menyusun kalender dari Bulan

Cara pertama adalah membiarkan selisih itu apa adanya. Kalender Hijriah bekerja begitu: dua belas bulan Bulan, tanpa bulan sisipan. BMKG menggambarkan kalender ini sebagai penanggalan yang didasarkan pada keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi, dan Bumi bersama Bulan dalam mengelilingi Matahari. Akibatnya setiap tanggal Hijriah mundur sekitar sebelas hari di kalender Masehi tiap tahun, dan perlahan melewati semua musim. Bagi selisih 365,242 hari dengan 10,9 hari: kira-kira 33 tahun untuk satu putaran penuh.

Cara kedua adalah menambal selisihnya. Kalender lunisolar tetap memakai Bulan untuk menandai pergantian bulan, tetapi menjaga agar tahunnya tidak melenceng dari musim dengan menyisipkan bulan tambahan sesekali. Aritmetikanya rapi dan bisa kamu periksa sendiri: 235 bulan sinodis berumur sekitar 6.939,6 hari, dan 19 tahun tropis juga sekitar 6.939,6 hari. Karena 19 tahun berisi 228 bulan biasa, sisanya tujuh bulan sisipan.

Hari-hari libur nasional Indonesia memuat contoh dari kedua cara itu. Dokumen resminya menyebut nama tahunnya sekaligus: Tahun Baru Islam Hijriah, Hari Suci Nyepi yang menandai Tahun Baru Saka, Tahun Baru Imlek dengan hitungan Kongzili, dan Hari Raya Waisak dengan hitungan BE. Aturan rinci tiap penanggalan berbeda-beda dan ditetapkan oleh otoritas masing-masing, tetapi sebab bergesernya sama: panjang bulan Bulan yang tidak bulat.

Konjungsi, hilal, dan data yang disiapkan BMKG

Untuk kalender yang mengikuti Bulan, pertanyaan praktisnya selalu sama: kapan satu bulan berganti? Ada dua besaran berbeda yang sering tertukar. Konjungsi, atau ijtimak, adalah kedudukan geometris saat Bulan melintas segaris dengan Matahari dilihat dari Bumi. Waktunya bisa dihitung jauh-jauh hari sampai ke detik, dan BMKG memang mengumumkannya begitu, lengkap dalam UT, WIB, WITA, dan WIT.

Hilal adalah hal yang lain: sabit paling tipis yang benar-benar tampak sesudah Matahari terbenam. Saat konjungsi, Bulan bisa belum kelihatan sama sekali, karena bagian yang tersinari terlalu sempit dan terlalu dekat dengan ufuk yang masih terang. Karena itu yang diukur adalah ketinggian hilal di atas ufuk dan elongasinya, yaitu jarak sudut Bulan dari Matahari.

BMKG menerbitkan dua besaran itu sebagai peta tahunan. Buku Peta Ketinggian Hilal berisi peta ketinggian hilal dan peta elongasi pada saat Matahari terbenam, untuk wilayah Indonesia maupun dunia, dan edisi tertentu menambahkan tabel data hilal dan Matahari untuk kota-kota di Indonesia. BMKG menyediakan datanya; penetapan resminya bukan di tangan lembaga ini.

Siapa yang menetapkan tanggal liburnya

Ada dua lapis keputusan. Lapis pertama menentukan hari apa saja yang berstatus libur, tanpa menyebut tanggal Masehinya. Itu diatur Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2024 tentang Hari-Hari Libur. Pertimbangannya disebut terbuka di dokumen itu: pengaturan hari-hari libur sebelumnya tersebar di beberapa Keputusan Presiden sehingga perlu diselaraskan. Daftarnya dibuka dengan 1 Januari Tahun Baru Masehi, 1 Muharram Tahun Baru Islam Hijriah, Isra Mikraj, Idulfitri dua hari, lalu Iduladha.

Lapis kedua menentukan tanggalnya untuk satu tahun tertentu. Itu dikerjakan lewat keputusan bersama tiga menteri: Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Keputusan bersama untuk tahun 2027, misalnya, ditetapkan di Jakarta pada 15 September 2026, menyebut Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2024 dalam dasar hukumnya, dan memuat daftar hari libur nasional serta cuti bersama dalam lampirannya.

Bahkan sesudah itu masih ada satu lapis lagi, dan dokumennya mengatakannya sendiri. Keputusan bersama tersebut menyatakan bahwa penetapan tanggal 1 Ramadan, Hari Raya Idulfitri, dan Hari Raya Iduladha ditetapkan dengan Keputusan Menteri Agama. Jadi tanggal yang tercetak di kalender dinding pun masih menunggu keputusan itu. Situs ini menjelaskan astronominya dan tidak memperkirakan tanggal penetapannya.

Buat tugas sekolah

Poin kunci

  • Periode sinodis Bulan 29,53 hari, sedangkan periode orbitnya mengelilingi Bumi 27,32 hari.
  • Dua belas bulan sinodis sekitar 354,4 hari, lebih pendek sekitar 10,9 hari daripada tahun tropis 365,242 hari.
  • Kalender murni Bulan mundur sekitar sebelas hari tiap tahun Masehi; kalender lunisolar menahannya dengan bulan sisipan.
  • Daftar hari libur diatur Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2024, dan tanggalnya tiap tahun ditetapkan lewat keputusan bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri PANRB.

Istilah

Periode sinodis
Selang antara dua fase Bulan yang sama, misalnya bulan baru ke bulan baru, panjangnya 29,53 hari.
Kalender lunisolar
Kalender yang memakai Bulan untuk menandai bulan dan Matahari untuk menandai tahun, sehingga sesekali menyisipkan bulan tambahan.
Elongasi
Jarak sudut Bulan dari Matahari dilihat dari Bumi; bersama ketinggian hilal, besaran ini dipetakan BMKG untuk saat Matahari terbenam.

Cara mengutip halaman ini

inomn. “Hari Besar yang Berpindah”. inomn.kosmonologue.id/budaya/hari-besar-yang-berpindah/. Diakses pada tanggal kamu membacanya.

Untuk tugas yang dinilai, sebaiknya periksa juga sumber aslinya di bawah.

Sumber