Langsung ke isi
inomn.CATATAN KECIL TENTANG BULAN
Bulan di Nusantara

Batak Toba / 03

Yang berkejaran di langit,
dan yang menghitung hari.

Kisah Batak Toba tentang Bulan dan Matahari yang berkejaran. Pergerakan keduanya dipakai menjelaskan hari, dan hitungan tiga puluh hari dalam satu bulan.

Nama cerita
Porbadaan ni Bulan dohot Mataniari
Peran Bulan
Bintang-bintang sebagai “anak” Bulan
Yang dijelaskan
Pergantian siang dan malam; hitungan 30 hari dalam satu bulan
Kekuatan bukti
Bukti kuat–menengah

Bersandar terutama pada penelitian kalender dan folklor — sebuah skripsi perguruan tinggi tentang penanggalan parhalaan dan sebuah tulisan tentang tahun baru kalender Batak — bukan pada repositori resmi pemerintah atau Badan Bahasa seperti sebagian daerah lain. Sebagian sumber sekunder juga mencampur cerita yang sebenarnya terpisah, sehingga yang dipertahankan hanya klaim yang konsisten di lebih dari satu sumber.

Bulan di dalam Banua Tonga

Dalam mitologi Batak Toba, Banua Tonga mencakup bumi, Matahari, Bulan, dan bintang. Bulan tidak berdiri sendiri di situ; ia disebut sebagai bagian dari satu susunan yang sama dengan ketiganya.

Kisah Porbadaan ni Bulan dohot Mataniari menggambarkan Matahari dan Bulan berkejaran dan bertikai. Bulan membawa bintang-bintang sebagai anak-anaknya, sementara Matahari juga mempunyai anak-anak cahaya.

Dari cerita ke hitungan hari

Cerita ini bersambung langsung dengan pengetahuan waktu. Penelitian tentang parhalaan menyatakan bahwa pergerakan Bulan dan Matahari dijadikan penjelasan bagi hari dan bagi hitungan 30 hari dalam satu bulan.

Bulan juga dipakai untuk membedakan hari yang baik dan hari yang tidak baik. Jadi apa yang diceritakan tentang langit bukan hanya bahan tutur; ia sekaligus dipakai untuk menimbang hari.

Yang sengaja tidak ikut dimasukkan

Ada versi populer yang langsung menghubungkan tokoh tertentu seperti Si Boru Deak Parujar dengan penguasa bulan. Ada pula sumber sekunder yang menggabungkan cerita penciptaan bumi dengan kisah pertikaian Matahari dan Bulan, seolah keduanya satu cerita.

Halaman ini hanya mempertahankan klaim yang konsisten lintas sumber: Bulan memiliki anak berupa bintang, Matahari dan Bulan berkejaran, dan kalender serta ramalan waktu berhubungan dengan pengamatan benda langit. Sisanya dibiarkan terbuka, bukan karena dianggap salah, melainkan karena belum cukup bahan untuk menegaskannya.

Yang tidak bisa disimpulkan dari cerita ini

  • Menyebut Si Boru Deak Parujar sebagai “penguasa bulan”. Hubungan itu muncul pada versi populer, dan sumber yang dipakai di sini tidak cukup untuk menegaskannya.
  • Membaca kisah pertikaian Matahari–Bulan sebagai satu paket dengan cerita penciptaan bumi. Sebagian sumber sekunder memang menggabungkan keduanya.
  • Menganggap parhalaan sebagai kalender bulan semata. Yang disebut sumbernya adalah pergerakan Bulan dan Matahari sekaligus.

Sumber

Sebagian sumber berada di repositori pemerintah yang kadang lambat atau sedang tidak dapat diakses. Tautannya tetap dicantumkan apa adanya.