Langsung ke isi
inomn.CATATAN KECIL TENTANG BULAN
Bulan di Nusantara

Jawa / 02

Yang menelan Bulan,
lalu tak bisa menahannya.

Kisah Jawa tentang Kalarahu yang mengejar Dewa Bulan dan Dewa Matahari; ketika salah satunya tertelan, terjadilah gerhana.

Nama cerita
Kalarahu / Kala Rahu
Peran Bulan
Dewa Bulan dikejar raksasa
Yang dijelaskan
Gerhana bulan
Kekuatan bukti
Bukti kuat

Teks ceritanya terbit lewat Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dan kepercayaan gerhananya ikut didokumentasikan Observatorium Bosscha. Kaitannya dengan kosmologi Hindu-Jawa juga terlihat jelas.

Kenapa Bulan bisa hilang lalu kembali

Di Jawa, gerhana bulan dijelaskan lewat kisah Kalarahu atau Kala Rahu. Dalam versi yang diterbitkan Badan Bahasa, Dewa Bulan dan Dewa Matahari dikejar Kalarahu. Ketika Kalarahu berhasil menelan salah satunya, terjadilah gerhana.

Cerita ini juga menjelaskan kenapa Bulan kembali: karena Kalarahu hanya berupa kepala, Matahari atau Bulan dapat keluar lagi.

Observatorium Bosscha juga mendokumentasikan kepercayaan Jawa bahwa gerhana bulan dikaitkan dengan Kala Rahu yang menelan bulan, dan bahwa masyarakat menabuh lesung untuk memaksa bulan “keluar” kembali. Bunyi lesung ini satu pola dengan gong dan kentongan di daerah lain: seolah masyarakat ikut memulihkan keteraturan kosmos.

Nawang Wulan: bidadari, bukan dewi bulan

Jaka Tarub–Nawang Wulan lebih tepat disebut motif bidadari daripada mitos bulan secara langsung. Meski begitu, kajian Patanjala tentang Nini Anteh memang memasukkannya ke dalam kumpulan cerita Nusantara yang terhubung dengan bulan.

Unsur yang membuatnya masuk hitungan ada tiga: latar malam purnama, bidadari dari kahyangan, dan nama Nawang Wulan yang secara populer dibaca berkaitan dengan rembulan. Menyebut Nawang Wulan sebagai “dewi bulan Jawa” tanpa kualifikasi adalah klaim yang tidak didukung sumber yang ada.

Dua jalur bulan dalam budaya Jawa

Pada 1633 M, Sultan Agung mengubah dasar kalender Mataram menjadi sistem bulan yang diselaraskan dengan kalender Islam. Tetapi tradisi waktu Jawa lebih rumit daripada sekadar kalender lunar: Pranata Mangsa sendiri berbasis matahari dan musim.

Jadi “bulan” dalam budaya Jawa berjalan di dua jalur yang berbeda. Satu jalur mitologi dan gerhana, satu lagi administrasi waktu dan kalender. Keduanya hidup berdampingan.

Bulan berwarna merah tembaga saat gerhana bulan total
Rupa Bulan yang dijelaskan cerita Kalarahu sebagai “tertelan”: gerhana bulan total 8 November 2022, dipotret dari Florida. Ini foto Bulannya, bukan gambar legendanya. NASA/Joel Kowsky

Yang tidak bisa disimpulkan dari cerita ini

  • Menyebut Nawang Wulan sebagai “dewi bulan Jawa” tanpa kualifikasi. Ia bidadari dari kahyangan, dan sumber yang ada tidak mendukung klaim sekeras itu. Ia juga tidak boleh disamakan dengan Nini Anteh (Sunda) atau Chang’e (Tionghoa).
  • Menganggap kalender tradisional Jawa seluruhnya berbasis bulan. Pranata Mangsa berbasis musim dan Matahari.
  • Menggabungkan mitos gerhana se-Nusantara menjadi satu mitos. Kesamaan pola “Bulan dimakan” tidak membuktikan satu asal yang sama.
  • Membaca cerita ini sebagai catatan sejarah astronomi yang harfiah. Nilainya adalah sebagai bukti sejarah cara manusia memberi makna pada langit.

Sumber

Sebagian sumber berada di repositori pemerintah yang kadang lambat atau sedang tidak dapat diakses. Tautannya tetap dicantumkan apa adanya.