Kenapa Bulan bisa hilang lalu kembali
Di Jawa, gerhana bulan dijelaskan lewat kisah Kalarahu atau Kala Rahu. Dalam versi yang diterbitkan Badan Bahasa, Dewa Bulan dan Dewa Matahari dikejar Kalarahu. Ketika Kalarahu berhasil menelan salah satunya, terjadilah gerhana.
Cerita ini juga menjelaskan kenapa Bulan kembali: karena Kalarahu hanya berupa kepala, Matahari atau Bulan dapat keluar lagi.
Observatorium Bosscha juga mendokumentasikan kepercayaan Jawa bahwa gerhana bulan dikaitkan dengan Kala Rahu yang menelan bulan, dan bahwa masyarakat menabuh lesung untuk memaksa bulan “keluar” kembali. Bunyi lesung ini satu pola dengan gong dan kentongan di daerah lain: seolah masyarakat ikut memulihkan keteraturan kosmos.
Nawang Wulan: bidadari, bukan dewi bulan
Jaka Tarub–Nawang Wulan lebih tepat disebut motif bidadari daripada mitos bulan secara langsung. Meski begitu, kajian Patanjala tentang Nini Anteh memang memasukkannya ke dalam kumpulan cerita Nusantara yang terhubung dengan bulan.
Unsur yang membuatnya masuk hitungan ada tiga: latar malam purnama, bidadari dari kahyangan, dan nama Nawang Wulan yang secara populer dibaca berkaitan dengan rembulan. Menyebut Nawang Wulan sebagai “dewi bulan Jawa” tanpa kualifikasi adalah klaim yang tidak didukung sumber yang ada.
Dua jalur bulan dalam budaya Jawa
Pada 1633 M, Sultan Agung mengubah dasar kalender Mataram menjadi sistem bulan yang diselaraskan dengan kalender Islam. Tetapi tradisi waktu Jawa lebih rumit daripada sekadar kalender lunar: Pranata Mangsa sendiri berbasis matahari dan musim.
Jadi “bulan” dalam budaya Jawa berjalan di dua jalur yang berbeda. Satu jalur mitologi dan gerhana, satu lagi administrasi waktu dan kalender. Keduanya hidup berdampingan.
Yang tidak bisa disimpulkan dari cerita ini
- Menyebut Nawang Wulan sebagai “dewi bulan Jawa” tanpa kualifikasi. Ia bidadari dari kahyangan, dan sumber yang ada tidak mendukung klaim sekeras itu. Ia juga tidak boleh disamakan dengan Nini Anteh (Sunda) atau Chang’e (Tionghoa).
- Menganggap kalender tradisional Jawa seluruhnya berbasis bulan. Pranata Mangsa berbasis musim dan Matahari.
- Menggabungkan mitos gerhana se-Nusantara menjadi satu mitos. Kesamaan pola “Bulan dimakan” tidak membuktikan satu asal yang sama.
- Membaca cerita ini sebagai catatan sejarah astronomi yang harfiah. Nilainya adalah sebagai bukti sejarah cara manusia memberi makna pada langit.
Sumber
- Kalarahu: Kumpulan Cerita Rakyat Jawa Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
- Pustaka Pertanyaan — kebudayaan dan gerhana bulan di Indonesia Observatorium Bosscha ITB
- Keterdidikan Perempuan Sunda dalam Cerita Nini Anteh Patanjala 10(3), 2018
- Sejarah Pranoto Mongso - Kalender Petani Pemerintah Desa Putatgede
- Revisiting Javanese pranata mangsa arXiv, 2022
Sebagian sumber berada di repositori pemerintah yang kadang lambat atau sedang tidak dapat diakses. Tautannya tetap dicantumkan apa adanya.