Warige dan Rowot
Sistem waktu Sasak menggunakan tanda langit. Kalender Rowot berpusat pada kemunculan rasi Pleiades — Rowot — dan memakai tanda bintang lain untuk membantu menentukan waktu.
Penelitian tentang warige juga menegaskan kuatnya komponen lunar. Jadi bukan bintang saja, dan bukan bulan saja: keduanya ada dalam pengetahuan waktu Sasak.
Nama bulan yang mengikuti Hijriah
Inventarisasi budaya Sasak mencatat nama-nama bulan yang digunakan masyarakat — di antaranya Bubur Puteq untuk Muharam, Bubur Beaq untuk Safar, dan seterusnya. Nama-nama itu jelas mengikuti struktur Hijriah.
Daftar itu dicatat sebagai nama bulan yang dipakai masyarakat, sementara kerangka penanggalan lunarnya berkembang melalui Islam.
Dua lapisan yang perlu dibedakan
Karena itu, ketika membahas “kebudayaan bulan” di Lombok, pengetahuan astronomi lokal yang lebih tua perlu dibedakan dari sistem kalender lunar yang berkembang melalui Islam.
Membedakan bukan berarti memilih mana yang dianggap asli. Dalam banyak tradisi Nusantara, lapisan lokal dan lapisan yang datang kemudian memang bercampur dalam satu teks yang sama; yang dikerjakan pembacanya adalah mengenali keduanya, bukan menghapus salah satunya.
Yang tidak bisa disimpulkan dari cerita ini
- Menganggap semua kalender tradisional sebagai kalender lunar. Rowot Sasak memakai rasi bintang; Pranata Mangsa Jawa berbasis musim dan Matahari; kalender Bali menggabungkan sistem dan penyesuaian.
- Membaca nama bulan yang mengikuti struktur Hijriah sebagai bukti bahwa seluruh pengetahuan waktu Sasak datang dari luar — dan sebaliknya, menghapus lapisan Islam supaya tradisinya terdengar lebih tua.
Sumber
- Mengenal Kalender Rowot Sasak DetikBali
- Kajian Warige / sistem penanggalan Sasak (teks sekunder akademik) Lalu Ari Irawan dkk.
- Pengaruh Budaya Asing terhadap Kehidupan Masyarakat Sasak di Daerah NTB Repositori Kemdikbud
Sebagian sumber berada di repositori pemerintah yang kadang lambat atau sedang tidak dapat diakses. Tautannya tetap dicantumkan apa adanya.