Dolo-dolo: bunyi yang dibunyikan serempak
ANTARA melaporkan bahwa dolo-dolo adalah kebiasaan lama masyarakat Tidore ketika terjadi gerhana matahari atau bulan. Bentuknya sederhana dan serentak: kentongan bambu dibunyikan bersama-sama di kampung-kampung.
Dalam tradisi lama, tujuannya untuk mengusir raksasa yang dipercaya menelan Matahari atau Bulan. Jadi bunyi itu bukan penanda peristiwa, melainkan tindakan — orang ikut mengerjakan sesuatu terhadap apa yang sedang terjadi di langit.
Pola semacam ini berulang di banyak daerah di Nusantara. Ada yang memakai lesung, gong, gendang, dan di Tidore kentongan. Kesamaan bentuk responsnya menarik, tetapi tidak dengan sendirinya berarti ceritanya berasal dari satu sumber yang sama.
Menjelang gerhana 2016: rencana dan alasan resminya
Menjelang gerhana matahari total 9 Maret 2016, Kepala Disbudpar Kota Tidore Kepulauan, Asrul Sani Soleman, mengumumkan rencana menyuguhkan dolo-dolo kepada wisatawan mancanegara. Beritanya terbit 4 Februari 2016 — lima minggu sebelum gerhananya — dan seluruhnya berbentuk rencana.
Alasan yang ia sebut berpolaritas tegas: “Kita menyuguhkan dolo-dolo itu bukan karena masih adanya kepercayaan masyarakat zaman dulu terkait terjadinya gerhana matahari atau gerhana bulan, tetapi lebih pada memperkenalkan tradisi zaman dulu masyarakat di daerah ini kepada para wisman.”
Yang berbicara adalah kepala dinas kebudayaan dan pariwisata dalam kapasitas penyelenggara acara, bukan peneliti yang memeriksa kepercayaan warga sepulau. Ucapannya menunjukkan alasan resmi pemerintah daerah menggelar dolo-dolo; ia tidak menunjukkan bahwa kepercayaan lama masih dianut secara harfiah oleh seluruh masyarakat, tetapi tidak menunjukkan pula bahwa sudah tidak ada lagi yang memegangnya. Halaman ini mencatat tradisinya, bukan menyimpulkan apa yang diyakini orang yang menabuhnya.
Ritual yang berpindah fungsi
Tidore adalah contoh penting tentang perubahan fungsi sebuah ritual: dari cara menanggapi gerhana menjadi warisan budaya yang dipentaskan. Bentuknya tetap — kentongan bambu yang dibunyikan serempak — tetapi alasan yang disebut untuk membunyikannya berubah.
Yang terdokumentasi di halaman ini baru satu sisi dari perubahan itu: rencana pergelaran 2016 dan alasan resminya. Tidak ada sumber di sini yang melaporkan bagaimana acaranya akhirnya berlangsung, atau seberapa sering dolo-dolo dibunyikan di luar acara resmi.
Karena itu waktu dan penutur ikut menentukan artinya. Kalimat tentang dolo-dolo pada 2016 diucapkan lima minggu sebelum gerhananya, oleh kepala dinas pariwisata yang sedang mengumumkan program — bukan oleh warga yang sedang menabuh kentongannya.
Yang tidak bisa disimpulkan dari cerita ini
- Menyimpulkan bahwa seluruh masyarakat Tidore masih memegang kepercayaan lama itu secara harfiah — atau sebaliknya, bahwa sudah tidak ada lagi yang memegangnya. Satu-satunya sumber di halaman ini adalah pejabat pariwisata yang mengumumkan rencana acara; ia tidak memeriksa kepercayaan warga.
- Menggabungkan mitos gerhana se-Nusantara menjadi satu mitos. Kesamaan pola “Bulan dimakan” tidak membuktikan satu asal yang sama.
- Membaca cerita ini sebagai catatan sejarah astronomi yang harfiah. Nilainya adalah sebagai bukti sejarah cara manusia memberi makna pada langit.
Sumber
Sebagian sumber berada di repositori pemerintah yang kadang lambat atau sedang tidak dapat diakses. Tautannya tetap dicantumkan apa adanya.