Langsung ke isi
inomn.CATATAN KECIL TENTANG BULAN
Bulan di Nusantara

Sunda · Bandung / 01

Yang terbayang
di bercak purnama.

Legenda Sunda tentang perempuan yang berakhir di bulan bersama kucingnya, dan sosoknya dibayangkan pada bercak permukaan Bulan.

Nama cerita
Nini Anteh / Nyai Anteh
Peran Bulan
Figur perempuan di bulan
Yang dijelaskan
Bercak pada permukaan Bulan; hubungan manusia dengan kosmos
Kekuatan bukti
Bukti kuat

Terdokumentasi dalam kajian perguruan tinggi dan artikel lembaga penelitian. Variannya beragam, dan di dalamnya terlihat lapisan Islam serta jejak istilah Candra dari tradisi Hindu.

Pokok ceritanya

Tradisi Sunda yang paling khas mengenai Bulan adalah legenda Nini Anteh. Dalam beberapa versi, Nini Anteh akhirnya berada di bulan bersama kucingnya, dan sosoknya dipercaya dapat dibayangkan pada bercak permukaan bulan.

Kajian Universitas Pendidikan Indonesia atas dua versi cerita ini menemukan fungsi yang berbeda di antara keduanya: satu versi menekankan keseimbangan mikrokosmos dengan makrokosmos, sementara versi yang lain menonjolkan kerja keras dan kedudukan perempuan.

Kenapa cerita ini penting

Nini Anteh bukan sekadar “cerita tentang perempuan di bulan”. Kajian akademik memperlihatkan lapisan kebudayaan yang bertumpuk di dalamnya: versi tertentu beredar di lingkungan pesantren dan sudah mengandung nilai Islam, sementara nama Candramawat menunjukkan jejak istilah Candra dari tradisi Hindu.

Artinya, folklor Sunda tidak selalu bisa dipaksa masuk ke kategori “pra-Hindu” atau “Islam”. Ia adalah hasil akumulasi dan penyesuaian — sebuah cerita yang terus dipakai orang, dan karena itu terus berubah.

Mirip Chang’e, tetapi bukan Chang’e

Artikel Purbawidya terbitan BRIN membandingkan Nini Anteh dengan Chang’e dari tradisi Tionghoa. Kesamaan di permukaan — sama-sama figur perempuan yang terkait dengan bulan — tidak berarti keduanya mempunyai sejarah asal yang sama.

Justru itu gunanya kajian intertekstual: memisahkan kemiripan motif dari transmisi cerita. Dua masyarakat bisa sampai pada bayangan yang mirip ketika menatap bercak yang sama, tanpa pernah saling meminjam.

Bulan purnama besar rendah di langit
Bercak gelap yang dibayangkan sebagai Nini Anteh dan kucingnya adalah dataran basal luas di permukaan Bulan. Fotonya purnama 3 Desember 2017 — gambar Bulannya, bukan gambar legendanya. NASA/Bill Ingalls

Yang tidak bisa disimpulkan dari cerita ini

  • Menyebut Nini Anteh sebagai “dewi bulan”. Ia figur folklor manusia yang terkait dengan bulan — berbeda dari Nawang Wulan yang seorang bidadari, dan berbeda pula dari Chang’e yang berasal dari tradisi Tionghoa.
  • Membaca kemiripan motif sebagai bukti satu asal cerita yang sama.

Sumber

Sebagian sumber berada di repositori pemerintah yang kadang lambat atau sedang tidak dapat diakses. Tautannya tetap dicantumkan apa adanya.