Bagaimana satu kawah terbentuk
Kawah tumbukan terbentuk ketika asteroid, meteoroid, atau komet menghunjam permukaan Bulan, biasanya dengan laju lebih cepat daripada kecepatan suara. Bentuk kawah yang dihasilkan bergantung pada energi benda itu — ditentukan oleh ukuran, kerapatan, dan kecepatannya — serta pada jenis permukaan yang dikenai dan sudut datangnya.
Saat menyentuh permukaan, benda itu menekan, menghancurkan, dan menguapkan batuan di bawahnya. Batuan yang tertekan lalu memantul balik dan melepaskan gelombang kejut yang merambat keluar; bila tekanannya cukup tinggi, sebagian batuan ikut meleleh. Material yang tersembur ke atas dan ke samping inilah yang disebut ejecta.
Sebagian besar ejecta menyebar di sekitar kawah, paling tebal dan paling merata di dekat kawahnya. Gumpalan ejecta yang jatuh kembali ke permukaan membentuk garis-garis terang yang memancar dari banyak kawah Bulan. Pecahan yang cukup besar bisa membuat kawah sekunder: kawah-kawah kecil yang berderet atau bergerombol dan menunjuk kembali ke kawah induknya, seperti yang terlihat di sekitar Copernicus.
Kawah sederhana, kawah kompleks, dan cekungan
Kawah sederhana berbentuk seperti mangkuk dengan dasar bulat dan tampak mulus. Di Bulan, garis tengahnya umumnya tidak lebih dari sekitar 10–15 kilometer. Linné adalah contohnya: lebarnya hanya 2,2 kilometer dan diperkirakan berumur kurang dari 10 juta tahun.
Kawah kompleks lebih besar — di Bulan umumnya mulai sekitar 15 kilometer — dan punya puncak di tengah, teras di dindingnya, serta dasar yang rata. Puncak tengah muncul karena batuan yang memantul balik sempat berperilaku seperti cairan, naik, lalu runtuh, sementara dinding kawah longsor ke dalam dan membentuk teras. Tycho di dataran tinggi selatan adalah salah satunya: garis tengahnya sekitar 85 kilometer dan umurnya sekitar 110 juta tahun.
Kawah yang garis tengahnya lebih dari 300 kilometer disebut cekungan, dan di Bulan ada lebih dari 40 cekungan tumbukan. Sampel Bulan menunjukkan sebagian besar cekungan besar terbentuk sekitar 3,9 miliar tahun lalu, pada masa yang disebut Late Heavy Bombardment. Seiring waktu banyak cekungan terisi magma dan menjadi mare, dataran gelap yang bisa dilihat dari Bumi dengan mata telanjang.
Kawah sebagai jam
Wilayah yang lebih tua di permukaan Bulan biasanya punya lebih banyak kawah, sebab waktunya lebih panjang untuk dihantam asteroid dan komet. Peneliti menghitung banyak-sedikitnya kawah di sebuah wilayah untuk mendapat gambaran umur permukaan itu. Cara ini disebut crater-counting, atau penghitungan kawah.
Hitungan kawah saja belum cukup. Supaya perkiraannya lebih tepat, peneliti memadukannya dengan cara lain, misalnya meneliti kimia batuan Bulan dan menganalisis data spektroskopi.
Kawah Giordano Bruno memperlihatkan cara itu bekerja. Tepinya masih tinggi dan tajam, tanda kawah yang muda, meski umur pastinya belum diketahui; penghitungan kawah terbaru menunjukkan kawah itu terbentuk paling lama 10 juta tahun lalu. Di Bumi bukti tumbukan seperti ini sebagian besar tertutup oleh erosi, pergerakan lempeng, dan aktivitas gunung berapi, sedangkan di Bulan jejaknya terawetkan selama miliaran tahun.
Regolit, debu yang menutup semuanya
Regolit adalah "tanah" Bulan. Lapisan berdebu dan berbatu itu hasil gempuran terus-menerus pada permukaan, mulai dari meteorit berbagai ukuran sampai partikel bermuatan dari Matahari. Gempuran itu memecah lapisan atas kerak dan meninggalkan lapisan tebal material lepas yang duduk di atas batuan dasar.
Isinya bermacam-macam: butir debu kecil, bongkah sebesar rumah, dan segala ukuran di antaranya. Pecahan yang paling halus, yaitu debu Bulan, bisa lebih kecil daripada 10–20 mikron, jauh lebih tipis daripada sehelai rambut manusia. Ada pula aglutinat, yaitu butir mineral yang terekat kaca ketika panas tumbukan mikrometeorit melelehkan sebagian tanah Bulan.
Tebal regolit tidak sama di mana-mana, dan itu pun bercerita tentang umur: umumnya, makin tua sebuah permukaan, makin tebal regolitnya. Di sebagian mare yang muda lapisannya tipis, bahkan ada tempat langka yang batuan dasarnya tersingkap, sedangkan di dataran tinggi yang lebih tua regolit bisa sedalam 20 meter. Debu ini juga merepotkan awak: angin Matahari memberi permukaan Bulan muatan listrik statis yang dapat mengangkat debu, lalu debu itu menempel pada astronaut dan rover saat mereka bergerak.
Buat tugas sekolah
Poin kunci
- Kawah Bulan adalah cekungan bekas tumbukan asteroid, meteoroid, atau komet.
- Kawah sederhana berbentuk mangkuk; kawah kompleks lebih besar, berpuncak tengah, dan berteras.
- Penghitungan kawah dipakai untuk memperkirakan umur sebuah permukaan.
- Regolit adalah lapisan debu dan pecahan batuan yang menutup hampir seluruh Bulan.
Istilah
- Ejecta
- Semburan batuan hancur yang terlempar ke atas dan ke samping saat tumbukan.
- Ray
- Garis terang yang memancar dari kawah, terbentuk dari ejecta yang jatuh kembali ke permukaan.
- Regolit
- Lapisan debu dan pecahan batuan lepas yang menutupi batuan dasar Bulan.
Cara mengutip halaman ini
inomn. “Kawah, Sinar Terang, dan Debu”. inomn.kosmonologue.id/geologi/kawah-dan-regolit/. Diakses pada tanggal kamu membacanya.
Untuk tugas yang dinilai, sebaiknya periksa juga sumber aslinya di bawah.
Sumber
- Moon Craters NASA Science
- Why Study Moon Craters? NASA Science
- Moon Composition NASA Science
- Moon Facts NASA Science
- Solar Wind on the Moon NASA Science