Langsung ke isi
inomn.CATATAN KECIL TENTANG BULAN
Kehidupan

KEHIDUPAN / 02

Sabit pertama
di ufuk barat.

Hilal adalah sabit tertipis sesaat setelah matahari terbenam, dan terlihat atau tidaknya ditentukan beberapa besaran yang bisa dihitung lebih dahulu.

SUMBER TERCANTUM DI BAWAH

Sabit pertama sesudah konjungsi

Bulan tidak memancarkan cahaya sendiri. Yang kita lihat adalah sisi yang sedang disinari Matahari, dan susunan Matahari, Bumi, serta Bulan berubah terus sehingga seluruh rangkaian fasenya berulang kira-kira setiap 29,5 hari. Pada fase bulan baru, Bulan terbit dan terbenam bersama Matahari sementara sisi gelapnya menghadap Bumi, jadi tidak ada yang bisa dilihat.

Saat Bulan melintasi arah Matahari di langit, keadaan itu disebut konjungsi, atau ijtimak. Sesudahnya Bulan terus bergeser ke timur, menjauh dari Matahari, dan bagian yang tersinari mulai terlihat dari Bumi sebagai lengkung yang sangat tipis. Sabit pertama yang mungkin teramati sesaat setelah matahari terbenam itulah yang disebut hilal.

Bidang orbit Bulan miring sekitar 5,145 derajat terhadap bidang edar Bumi mengelilingi Matahari. Karena kemiringan itu, pada konjungsi Bulan hampir tidak pernah tepat menutupi Matahari, dan posisinya terhadap ufuk saat matahari terbenam berbeda-beda dari bulan ke bulan.

Bulan sabit terlihat dari Stasiun Luar Angkasa Internasional
Sabit tua dipotret dari Stasiun Luar Angkasa Internasional. NASA

Besaran yang menentukan terlihat atau tidak

Dua besaran paling sering disebut. Yang pertama ketinggian hilal, yaitu sudut Bulan di atas ufuk barat pada saat matahari terbenam. Yang kedua elongasi, yaitu jarak sudut antara Bulan dan Matahari dilihat dari Bumi. Ketinggian menentukan apakah Bulan masih berada di atas ufuk ketika langit mulai menggelap, sedangkan elongasi menentukan seberapa lebar sabitnya dan seberapa jauh ia dari silau Matahari.

Dua besaran lain melengkapinya. Umur Bulan adalah selang waktu sejak konjungsi sampai matahari terbenam, dan lag adalah selisih waktu terbenamnya Bulan dan Matahari — dengan kata lain, lamanya jendela pengamatan. BMKG menerbitkan kelimanya sekaligus: peta ketinggian hilal, peta elongasi, peta umur Bulan, peta lag, dan peta fraksi iluminasi Bulan, ditambah waktu konjungsi, waktu terbenam Matahari, serta tabel data hilal untuk kota-kota di Indonesia.

Angka saja belum cukup. Sabit setipis ini muncul di langit yang masih terang oleh cahaya senja, di bagian ufuk yang paling panjang lintasan cahayanya melewati udara, uap air, dan debu, sehingga awan tipis pun sudah cukup untuk menutupnya. BMKG juga mendaftar benda langit lain yang berjarak sudut dekat dengan Bulan karena berpotensi mengacaukan pengamatan: pada 11 dan 12 September 2026, misalnya, Merkurius berada kurang dari 10 derajat dari Bulan sejak matahari terbenam hingga Bulan terbenam.

Satu petang, angka yang berbeda tiap kota

Indonesia terbentang pada tiga zona waktu — WIB, WITA, dan WIT — yang berlaku sejak 1 Januari 1988 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 41 Tahun 1987. Matahari terbenam lebih dahulu di timur, sementara Bulan terus menjauh dari Matahari sepanjang hari itu. Akibatnya, pada petang yang sama, pengamat di barat mendapati hilal yang sedikit lebih tua, lebih tinggi, dan lebih lebar elongasinya daripada pengamat di timur.

BMKG mencatat contohnya. Pada saat matahari terbenam 11 September 2026, ketinggian hilal di Indonesia berkisar dari 0,56 derajat di Jayapura sampai 1,73 derajat di Pelabuhan Ratu, dan elongasi geosentrisnya dari 3,34 derajat di Merauke sampai 4,83 derajat di Sabang. Konjungsinya sendiri terjadi pagi hari itu, pukul 03.26.49 UT atau 10.26.49 WIB.

Sehari kemudian keadaannya jauh berbeda. Pada matahari terbenam 12 September 2026, ketinggian hilal berkisar dari 10,86 derajat di Melonguane, Sulawesi Utara, sampai 13,19 derajat di Parigi, Jawa Barat, sedangkan elongasinya dari 15,56 derajat di Merauke sampai 17,14 derajat di Sabang — bertambah sekitar dua belas derajat hanya dalam sehari. Lag-nya melebar menjadi 55,98 menit di Waris, Papua, sampai 62,86 menit di Sinabang, Aceh, meski permukaan Bulan yang tampak tersinari baru 1,19 sampai 1,57 persen.

Hisab, rukyat, dan siapa yang menetapkan

Penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia melibatkan dua pendekatan. Hisab adalah perhitungan posisi Bulan dan Matahari, yang hasilnya bisa disiapkan jauh sebelum harinya tiba. Rukyat adalah pengamatan langsung hilal di lapangan pada petang yang bersangkutan. Keduanya memerlukan data yang sama, dan data itulah yang disediakan lembaga tanda waktu.

BMKG menyiapkan keduanya. Lembaga ini menerbitkan data hilal hasil hisab untuk saat matahari terbenam, termasuk buku tahunan berisi peta ketinggian hilal dan peta elongasi, dan juga melaksanakan rukyat hilal di 37 lokasi di Indonesia setiap bulan, yang siarannya dapat diikuti secara daring lewat kanal Sistem Informasi Observasi Hilal. BMKG pula yang menjadi acuan tanda waktu nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 pasal 32.

Meski begitu, BMKG tidak menetapkan awal bulan. Dalam keterangannya sendiri, BMKG menyebut perannya sebagai pemberi pertimbangan secara ilmiah kepada pemangku kepentingan, antara lain Kementerian Agama, dalam penentuan awal bulan Hijriah. Karena itu halaman ini berhenti pada penjelasan astronominya. Kapan sebuah bulan dimulai adalah keputusan pihak yang berwenang menetapkannya.

Buat tugas sekolah

Poin kunci

  • Hilal adalah sabit tertipis yang mungkin teramati sesaat setelah matahari terbenam, sesudah Bulan melewati konjungsi (ijtimak).
  • Terlihat atau tidaknya ditentukan ketinggian Bulan di atas ufuk, elongasi, umur Bulan, dan lag, serta terang cahaya senja dan keadaan cuaca.
  • Karena Indonesia terbentang tiga zona waktu, ketinggian dan elongasi hilal pada petang yang sama berbeda dari kota ke kota; pada 11 September 2026 ketinggiannya berkisar 0,56 sampai 1,73 derajat.
  • BMKG menerbitkan data hisab dan melaksanakan rukyat di 37 lokasi, lalu menyampaikannya sebagai pertimbangan ilmiah; penetapan awal bulan Hijriah ada pada pihak yang berwenang.

Istilah

Konjungsi (ijtimak)
Saat Bulan melintasi arah Matahari di langit; sesudah itu sabit mulai terbentuk.
Elongasi
Jarak sudut antara Bulan dan Matahari dilihat dari Bumi; makin besar, makin lebar sabitnya.
Lag
Selisih waktu terbenamnya Bulan dan Matahari, yaitu lamanya jendela pengamatan hilal.

Cara mengutip halaman ini

inomn. “Hilal dan Awal Bulan”. inomn.kosmonologue.id/budaya/hilal-dan-awal-bulan/. Diakses pada tanggal kamu membacanya.

Untuk tugas yang dinilai, sebaiknya periksa juga sumber aslinya di bawah.

Sumber