Langsung ke isi
inomn.CATATAN KECIL TENTANG BULAN
Kehidupan

KEHIDUPAN / 03

Lima hari dan tujuh hari,
bertemu tiap 35 hari.

Penanggalan Jawa menamai satu hari dua kali, dan pasangan nama itu kembali setiap 35 hari.

SUMBER TERCANTUM DI BAWAH

Dua siklus yang berjalan bersamaan

Dalam penanggalan Jawa, satu tanggal disebut dengan dua nama. Yang pertama nama hari dalam pekan tujuh hari, sama seperti yang dipakai kalender Masehi. Yang kedua nama pasaran, siklus lima hari dengan urutan Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Pasangan kedua nama itu disebut weton, misalnya Jumat Legi.

Kedua siklus berjalan sendiri-sendiri dan tidak saling menunggu. Keduanya juga tidak berhenti di akhir bulan atau akhir tahun: hitungannya sekadar hari berturut-turut yang tidak pernah diputus. Itulah sebabnya pasaran bisa dilacak jauh ke belakang maupun ke depan tanpa tabel khusus.

Untuk menghitungnya, kamu hanya perlu satu tanggal acuan yang wetonnya sudah diketahui. Hitung selisih hari dari tanggal acuan ke tanggal yang kamu cari, lalu ambil sisa pembagiannya. Sisa pembagian dengan lima memberi pasaran, sisa pembagian dengan tujuh memberi nama harinya.

Aritmetika 35 hari

Pasaran kembali ke nama yang sama setiap kelipatan lima hari. Nama hari kembali sama setiap kelipatan tujuh hari. Supaya keduanya sama-sama kembali, jumlah harinya harus kelipatan lima sekaligus kelipatan tujuh. Karena lima dan tujuh tidak punya faktor bersama selain satu, bilangan terkecil yang memenuhi keduanya adalah hasil kalinya: 35.

Selisih hari dari satu weton ke weton berikutnya yang sama karena itu selalu 35 hari, tidak pernah lebih pendek. Di antara dua pertemuan itu, keduanya melewati semua kombinasi lain: ada tepat 35 pasangan nama hari dan nama pasaran yang mungkin, dan semuanya terpakai sebelum urutannya berulang.

Perpindahan dari tahun ke tahun bisa dihitung dengan cara yang sama. Tahun biasa 365 hari habis dibagi lima, jadi pasaran pada tanggal Masehi yang sama tidak berubah; tetapi 365 bersisa satu bila dibagi tujuh, sehingga nama harinya maju satu. Pada tahun kabisat 366 hari, pasarannya maju satu dan nama harinya maju dua. Karena tahun kabisat datang menyela, weton pada satu tanggal Masehi baru cocok lagi setelah beberapa tahun, dan jeda tahunnya tidak selalu sama.

Bulan yang mengatur bulannya

Siklus pasaran hanya menghitung hari dan tidak terikat langit. Yang mengikuti Bulan adalah bulan-bulan kalender Jawa: panjangnya mengikuti daur fase Bulan. NASA mencatat siklus fase berulang sekitar 29,5 hari, dan lembar data Bulan NASA memberi angka yang lebih teliti untuk periode sinodis, yaitu 29,53 hari.

Angka itu berbeda dari waktu Bulan mengelilingi Bumi, yang tercatat 27,3217 hari pada lembar data yang sama. Selisihnya muncul karena Bumi ikut bergerak mengelilingi Matahari. Sesudah satu putaran penuh terhadap bintang-bintang, Bulan masih perlu bergerak sedikit lagi untuk kembali ke susunan yang sama terhadap Matahari, dan fase yang sama baru terulang di sana.

Dua belas bulan yang masing-masing rata-rata 29,53 hari berjumlah sekitar 354 hari, kira-kira sebelas hari lebih pendek daripada tahun Masehi yang 365 atau 366 hari. Karena itu tanggal-tanggalnya bergeser terhadap kalender Masehi dari tahun ke tahun. Penanggalan ini juga dicetak resmi: BMKG, yang menjadi acuan tanda waktu nasional, menerbitkan buku Almanak tiap tahun yang memuat penanggalan Masehi, Islam, Jawa, Cina, dan Hindu, ditambah fase-fase Bulan serta waktu terbit dan terbenam Matahari.

Yang dihitung situs ini

Halaman Lahir di situs ini menghitung weton dari tanggal yang kamu masukkan, memakai aritmetika sisa pembagian yang barusan dijelaskan. Seluruh perhitungan berjalan di perangkatmu, dan tanggal yang kamu ketik tidak dikirim ke mana pun.

Di halaman itu ada pilihan untuk kelahiran sesudah maghrib, bagi kamu yang menghitung pergantian hari sejak matahari terbenam dan bukan sejak tengah malam. Kalau pilihan itu dinyalakan, hitungannya memakai hari berikutnya, sehingga wetonnya bisa berbeda satu langkah.

Yang tidak dihitung situs ini adalah maknanya. Arti yang dilekatkan orang pada weton, serta cara sebuah keluarga memakainya, hidup di dalam tradisi dan diwariskan lewat orang, bukan lewat rumus. Halaman ini berhenti pada penanggalannya saja: nama hari, nama pasaran, dan cara keduanya bertemu.

Buat tugas sekolah

Poin kunci

  • Penanggalan Jawa memakai dua siklus sekaligus: pekan tujuh hari dan pasaran lima hari (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).
  • Pasangan nama hari dan nama pasaran disebut weton, dan berulang tiap 35 hari karena 35 adalah kelipatan persekutuan terkecil dari 5 dan 7.
  • Pada tahun biasa 365 hari, pasaran di tanggal yang sama tetap (365 habis dibagi 5), tetapi nama harinya maju satu (365 bersisa 1 saat dibagi 7).
  • Bulan-bulan kalender Jawa mengikuti daur Bulan; satu periode sinodis rata-rata 29,53 hari, sehingga dua belas bulan hanya sekitar 354 hari.

Istilah

Pasaran
Siklus lima hari — Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon — yang berjalan bersamaan dengan pekan tujuh hari.
Weton
Pasangan nama hari pekan dan nama pasaran pada satu tanggal, misalnya Jumat Legi.
Periode sinodis
Selang antara dua bulan baru berturut-turut, rata-rata 29,53 hari.

Cara mengutip halaman ini

inomn. “Weton dan Pasaran”. inomn.kosmonologue.id/budaya/weton-dan-pasaran/. Diakses pada tanggal kamu membacanya.

Untuk tugas yang dinilai, sebaiknya periksa juga sumber aslinya di bawah.

Sumber