Panjang satu bulan
Lembar fakta Bulan yang dikelola NASA mencatat dua angka yang mudah tertukar. Periode revolusi, atau periode sideris, adalah 27,32 hari: waktu yang Bulan perlukan untuk satu kali mengitari Bumi diukur terhadap bintang-bintang jauh. Periode sinodis adalah 29,53 hari: selang dari satu bulan baru ke bulan baru berikutnya.
Selisih sekitar dua hari itu muncul karena Bumi tidak diam. Selama Bulan menyelesaikan satu putaran orbit, Bumi sudah bergerak cukup jauh pada orbitnya mengelilingi Matahari, sehingga Bulan masih perlu berjalan sedikit lagi untuk kembali ke susunan yang sama terhadap Matahari. Susunan itulah yang menentukan fase yang kita lihat.
Karena 29,53 bukan bilangan bulat, tidak ada kalender yang bisa memberi setiap bulan panjang yang sama. Kalender yang mengikuti Bulan menyiasatinya dengan memakai bulan 29 hari dan 30 hari secara bergantian, sehingga rata-ratanya mendekati satu putaran fase.
Tiga jenis kalender
Kalender solar, termasuk kalender Masehi yang dipakai sebagai kalender sipil internasional, disusun mengikuti perjalanan musim selagi Bumi mengelilingi Matahari, dan tidak berusaha menyelaraskan bulan-bulannya dengan fase Bulan. Tanggal 17 Agustus selalu jatuh pada bagian tahun yang sama, tetapi bentuk Bulan pada tanggal itu berbeda-beda.
Kalender lunar murni melakukan kebalikannya. Kalender Hijriah adalah kalender lunar murni yang bulan-bulannya bersesuaian dengan siklus fase Bulan, sehingga dua belas bulannya bergeser secara teratur terhadap kalender sipil dan menyusuri seluruh musim dalam waktu sekitar 33 tahun. Untuk keperluan ibadah, setiap bulan dimulai pada kenampakan pertama sabit sesudah konjungsi.
Kalender lunisolar mencoba tetap selaras dengan tahun Matahari sekaligus dengan fase Bulan. Satu tahun Matahari tidak memuat jumlah bulan lunar yang bulat, maka cara yang paling sering dipakai adalah menyisipkan satu bulan tambahan setiap beberapa tahun. Tanpa penyisipan itu, musim akan bergeser terus melewati bulan-bulannya. Kalender Cina termasuk lunisolar, dihitung dari posisi Matahari dan Bulan yang sebenarnya.
Yang terasa dalam hidup sehari-hari
Karena dua belas bulan lunar berjumlah sekitar 354 hari, tanggal Hijriah maju sekitar sebelas hari setiap tahun pada kalender Masehi. Dalam satu masa hidup, Ramadan bisa dialami pada musim hujan dan pada musim kemarau, lalu kembali lagi: satu putaran penuh melewati semua musim memakan waktu sekitar 33 tahun.
Imlek bergerak dengan pola yang berbeda. Kalender Cina bersifat lunisolar, dan bulan sisipannya menahan tanggal supaya tidak ikut hanyut melewati musim. Akibatnya tanggal Masehi Imlek tetap berpindah dari tahun ke tahun, tetapi tidak menyapu seluruh tahun seperti tanggal pada kalender lunar murni.
Beberapa sistem penanggalan berjalan berdampingan di Indonesia. Buku Almanak yang diterbitkan BMKG memuat jenis-jenis kalender, hari raya nasional dan keagamaan, penanggalan Masehi, Islam, Jawa, Cina, dan Hindu, fase-fase Bulan, waktu terbit dan terbenam Matahari, serta informasi gerhana untuk tahun berjalan.
Yang bisa dihitung dan yang ditetapkan
Ada pembagian yang jelas antara dua hal. Tanggal dan waktu setiap bulan baru astronomis dapat dihitung dengan tepat. Sementara itu, kapan seorang pengamat pertama kali benar-benar melihat sabit muda tidak dapat dihitung dengan ketepatan yang sama, karena bergantung pada ketinggian sabit, jaraknya dari Matahari, keadaan udara, dan penglihatan pengamat.
BMKG menerbitkan bahan hitungannya secara terbuka. Menjelang tiap awal bulan Hijriah, BMKG memuat waktu konjungsi dalam UT, WIB, WITA, dan WIT, serta ketinggian hilal dan elongasi geosentris saat Matahari terbenam untuk sejumlah kota di Indonesia. Setiap tahun BMKG juga menerbitkan buku Peta Ketinggian Hilal yang memetakan ketinggian hilal dan elongasi saat Matahari terbenam, baik untuk wilayah Indonesia maupun dunia.
Angka-angka itu adalah bahan, bukan keputusan. Penetapan resmi awal bulan dan hari besar keagamaan berada pada lembaga yang berwenang menetapkannya, dan halaman ini tidak meramalkan tanggalnya. Yang bisa dijelaskan di sini adalah astronominya: mengapa satu bulan berumur 29 atau 30 hari, dan mengapa kalender yang mengikuti Bulan bergerak seperti itu.
Buat tugas sekolah
Poin kunci
- Periode sinodis Bulan 29,53 hari, yaitu dari bulan baru ke bulan baru; periode sideris 27,32 hari, yaitu satu putaran penuh terhadap bintang.
- Dua belas bulan lunar berjumlah sekitar 354 hari, sehingga tanggalnya maju sekitar sebelas hari tiap tahun pada kalender Masehi.
- Kalender Hijriah adalah kalender lunar murni; dua belas bulannya menyusuri seluruh musim dalam waktu sekitar 33 tahun.
- Kalender lunisolar seperti kalender Cina menyisipkan bulan tambahan agar tetap selaras dengan tahun Matahari.
Istilah
- Periode sinodis
- Selang waktu dari satu bulan baru ke bulan baru berikutnya, 29,53 hari.
- Konjungsi
- Saat Bulan berada pada arah yang sama dengan Matahari dilihat dari Bumi; waktunya dapat dihitung dengan tepat.
- Interkalasi
- Penyisipan bulan tambahan pada kalender lunisolar supaya bulan-bulannya tidak bergeser dari musim.
Cara mengutip halaman ini
inomn. “Kalender yang Mengikuti Bulan”. inomn.kosmonologue.id/budaya/kalender-bulan/. Diakses pada tanggal kamu membacanya.
Untuk tugas yang dinilai, sebaiknya periksa juga sumber aslinya di bawah.
Sumber
- Moon Fact Sheet NASA NSSDC
- Moon Phases NASA Science
- Introduction to Calendars US Naval Observatory
- Almanak BMKG
- Hilal dan Gerhana BMKG
- Peta Ketinggian Hilal BMKG